Madura

Madura


Madura adalah pulau yang terletak disebelah timur laut Jawa Timur dengan jumlah penduduk 4 juta jiwa. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan, masyarakat Madura juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja keras (abhantal omba' asapo' angen). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan masyarakat Madura, mereka memiliki sebuah falsafah: "katembheng pote mata, angok pote tolang"

Selain suku Madura terkenal dengan gaya bicaranya, suku Madura juga terkenal dengan caroknya dimana sejarah carok tersebut berawal pada abad ke 18 M setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, orang- orang di Jawa Timur mulai berani melakukan perlawanan pada Belanda. Senjatanya adalah celurit.Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari kalau pelawanan tersebut dihasut oleh Belanda. Tradisi warisan leluhur mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa.Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.

Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam.



Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda.Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filosofi hidupnya, bahwa bila ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok.Alasannya adalah demi menjunjung harga diri, Istilah khas nya di Jawa Timur dan Madura, “daripada putih mata lebih baik putih tulang” artinya, “lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu”.Maka tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal.

Senjata yang digunakan selalu celurit.Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit. Kondisi semacam itu akhirnya memasyarakat bagi para keturunan orang Jawa Timur dan Madura di Jawa Timur, di Kalimantan, di Sumatra, di Irian Jaya, di Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, suka kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Inilah akibat dari Warisan kolonial Belanda.


Sesungguhnya masyarakat Madura memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri, Leluhur mereka bertujuan melawan kolonial penjajahan Belanda di Tanah Jawa Timur dan Pulau Madura. Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok yang selalu menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan.Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bahwa sesungguhnya adalah Warisan Kolonial Belanda hasil rekayasa Kolonial Belanda.

Komentar